Minggu, 26 Januari 2014

nyanyian malamku



                Aku mencintaimu seperti rintik hujan di siang hari
                Bukan mungkin tapi tidak mungkin
Biarkanlah aku mencintaimu dengan caraku
Cintaku telah kuselipkan dalam syair rinduku malam ini
Izinkan aku menyelipkan kata cinta lewat sajak ini
Meski hatimu tak bisa  mengerti…
Semoga matamu bisa mengerti
Semoga telingamu bisa mendengar nyanyian rinduku
Yang mengalun di sunyi malam
                Izinkan aku mencintaimu dengan caraku
                Kucintai dirimu … kusayang dirimu …
                Namun layar telah mengantarkanmu
                Mengantarkanmu ke singgasana surga hatinya yang indah
Kini…….
Biarlah aku mencintaimu di batas lingkaran ini…..
Ajari aku cara membencimu
Biarkan rasaku berlalu ………

Syair Rindu Untuk Ayah




                                                                        Ayah…
 kutulis sajak ini ketika ombak rindu
 Kembali menghempas di relung hatiku..
 Rindu yang lama tersimpan
 Tertumpah bersama airmata di syair ini …
 Rinduku adalah sepi tentang dirimu
 Airmataku adalah airmata kesekian                        
 Yang tak pernah diusap olehmu ..
         Ayah..
         Datanglah sekali saja
         Temui aku …
         Usap airmata rinduku ayah..
        Hapus airmata kesekianku ini…
        Dari anakmu,
         Yang merindu …..

Cinta tak bertuah

Sebenarnya rasa ini sudah berkali-kali kutikam dengan badik bertahtakan permata namun tak jua mampu membunuh rasa cinta yang sesungguhnya menyiksa diriku sendiri.

Sore tadi kucoba menatap wajah orang yang pernah kau cintai, ah rasanya harapanku pupus. aku sama sekali mampu duduk berseblahn dengannya. dia orang yang dihantam manis oleh kesempurnaan, namun saya dililit oleh kekurangan dari ujung kaki ke ujung kepala.

Siang tadi kuperhatikan tulisanmu yang bernyanyi tentang rasa kepada seorang gadis. namun kau tidak mengerti arti dan makna lagu tersebut. hanya aku yang tau. semuanya bercerita tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan. sungguh rasa ini ingin kubunah dan kubuang ke dalam lembah luka darah yang miris untuk dibicarakan.

tapi kembali sebuah suara pilu meneriakkan sebuah kalimat,, bagaimana aku bisa membunuh cinta ini sedangkan kita setiap waktu melalui waktu bersama. iya, kita memang selalu melewati waktu bersama, namun sayangnya hanya sebatas teman atau sodara dalam lembaga. semuanya tidak bisa kubunuh begitu saja, tolong bantu aku menikam rasa itu, semua terlalu pedih untuk ku ungkapkan dan kulupakan.

Kadang cemburu dan airmata datang menyapaku saat engkau dekat dengan yang lain, tapi aku tidak bisa menjawab mengapa ? hanya tolong bertanya pada dirimu, dalam sehari berapa kali manis senyummu menyapa diamku ....

Airmata Negriku



Airmata Negeriku
                               
            Atas nama malam yang hitam
          Kutuliskan secarik sajak untuk negeriku
          Negeri yang katanya permai
          Negeri yang katanya kaya raya
          Negeri yang katanya Merdeka
Langit malam bergemuruh
Melantunkan protes-protes anak bangsa di persimpangan jalan
Airmata anak negeri
Yang hanya bisa duduk termenung dan  termangu
Melihat dewa – dewa yang duduk manis
di atas kursi bertahtakan kekuasaan
duduk manis berkipas jutaan lembar rupiah kemunafikan
duduk manis di balik suara lirih jutaan anak bangsa
          Bersama gemuruh malam
          Kutulis sajak tentang negeriku yang tak pernah merdeka
          Kulantunkan syair tentang  negeriku
 yang hidup dibawah kekuasaan kemunafikan
          Dan
          Kunyanyikan sebait balada sendu tentang airmata bangsa